Infantilisme Beragama, Potret Kasus 1 Juni*
Oleh: Noor Rohman
Dalam daftar sejarah kehidupan keberagamaan Indonesia terlihat bagaimana pertikaian bernuansa agama sering mengemuka di bumi Nusantara ini. Kita saksikan ratusan jiwa terusir dari tempat kediamannya dan tidak sedikit nyawa melayang sia-sia. Ironisnya, relitas historis yang kelam seperti itu belum cukup menjadi pelajaran untuk melepaskan baju anarkisme sekelompok orang yang mengklaim dirinya paling benar.
Dengan dalih agama mereka angkuh mengumbar aksi kekerasan dalam penyelesaian konflik. Kekerasan masih saja diproduksi dan bertahta. Inilah bukti betapa rentannya rasa kebersamaan dalam kehidupan masyarakat kita dan bentuk infantilisme (sifat kekanak-kanakan) beragama begitu mengakar. Betapa kentalnya prasangka antar kelompok serta betapa rendahnya saling pengertian antar komunitas yang berbeda keyakinan.
Insiden Monas tanggal 1 Juni 2008 adalah bentuk infantilisme yang menjadi bukti pemaknaan negatif atas keragaman yang ada di negeri ini. Atas dasar sinisme pada Jemaat Ahmadiyah sekelompok orang yang menamakan dirinya Laskar Pembela Islam langsung menyerang aksi damai Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Keberadaan anak-anak, ibu-ibu, dalam aksi memeringati hari kesaktian Pancasila itu, tidak mengurungkan niat mereka melakukan tindakan anarkis, memukuli serta melempari batu. Baca selebihnya »