Infantilisme Beragama, Potret Kasus 1 Juni

Posted in Opini on Juni 28, 2009 by nurrahman191085

Infantilisme Beragama, Potret Kasus 1 Juni*

Oleh: Noor Rohman

Dalam daftar sejarah kehidupan keberagamaan Indonesia terlihat bagaimana pertikaian bernuansa agama sering mengemuka di bumi Nusantara ini. Kita saksikan ratusan jiwa terusir dari tempat kediamannya dan tidak sedikit nyawa melayang sia-sia. Ironisnya, relitas historis yang kelam seperti itu belum cukup menjadi pelajaran untuk melepaskan baju anarkisme sekelompok orang yang mengklaim dirinya paling benar.

Dengan dalih agama mereka angkuh mengumbar aksi kekerasan dalam penyelesaian konflik. Kekerasan masih saja diproduksi dan bertahta. Inilah bukti betapa rentannya rasa kebersamaan dalam kehidupan masyarakat kita dan bentuk infantilisme (sifat kekanak-kanakan) beragama begitu mengakar. Betapa kentalnya prasangka antar kelompok serta betapa rendahnya saling pengertian antar komunitas yang berbeda keyakinan.

Insiden Monas tanggal 1 Juni 2008 adalah bentuk infantilisme yang menjadi bukti pemaknaan negatif atas keragaman yang ada di negeri ini. Atas dasar sinisme pada Jemaat Ahmadiyah sekelompok orang yang menamakan dirinya Laskar Pembela Islam langsung menyerang aksi damai Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Keberadaan anak-anak, ibu-ibu, dalam aksi memeringati hari kesaktian Pancasila itu, tidak mengurungkan niat mereka melakukan tindakan anarkis, memukuli serta melempari batu. Baca selebihnya »

Islam Syari’at, Islam Cetak Ulang

Posted in Resensi on Juni 28, 2009 by nurrahman191085

Islam Syari’at, Islam Cetak Ulang*
Oleh: Noor Rohman

Judul Buku :
Gerakan Islam Syari’at; Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia
Penulis : Dr. Haedar Nashir
Tebal Buku : xxxvii-652 hlm.
Penerbit :
Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP) Muhammadiyah, Jakarta.

Realitas masyarakat Muslim dalam rentang sejarah yang panjang menjadi bukti bahwa orientasi paham keagamaan Islam tidaklah monolitik. Ketika Islam dikonstruksi oleh satu kelompok terentu akan melahirkan suatu konsepsi tertentu. Konsepsi tersebut, orientasi keagamaannya memprioritaskan upaya harmonisasi syariat Islam dengan realitas masyarakat yang dihadapi. Pada sisi lain, terdapat aliran yang orientasi keagamaannya bersifat doktrinal dengan kecenderungan sikap keagamaan yang puritan.

Buku yang diangkat dari disertasi Haedar Nashir ini berusaha mengidentifikasi Islam puritan yang disebutnya sebagai Islam Syari’at. Juga mengupas profil kebangkitan gerakan Islam ideologis Indonesia serta melacak akar geneologisnya melalui paham Salafiyah yang muncul pada abad ke-7 yang dikembangkan oleh para Ulama dari mazhab Hanbali.

Gerakan Salafiyah adalah gerakan yang ingin mengembalikan Islam pada dua sumbernya yang murni yaitu al-Qur’an dan al-Hadits. Gerakan inilah yang kemudian mewarnai era kebangkitan kembali dan pembaruan dunia Islam yang dikenal dengan gerakan tajdid al-Islam, Revivalisme, Reformisme atau Modernisme Islam serta Fundamentalisme. Garis besar pemikiran mereka adalah menghidupkan aqidah ulama salaf (Sahabat, Tabiin, Tabiin-tabiin) dan berusaha memerangi paham lainnya. Aliran ini disebarluaskan oleh tokoh-tokoh seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dan Muhammad bin Abdul Wahhab, Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasyid Ridha. Pengikut setia serta tokoh yang menyebarluaskannya. Baca selebihnya »

Politik Perempuan dalam NU

Posted in Opini on Mei 28, 2009 by nurrahman191085

Politik Perempuan dalam NU

Oleh; Noor Rohman

Sudah lama perempuan NU bergerak menyuarakan aspirasinya. Sejak tahun pertama didirikan, ketika NU menjadi partai politik, partai NU tak punya wakil perempuan diparlemen, dan memang tak memberi jatah perempuan menjadi calon. Sikap partai ini kemudian mendapat reaksi dan kecaman dari tokoh muslimat NU. Muslimat merasa yakin bahwa salah satu faktor yang membesarkan partai NU adalah pemberian ruang partisipasi bagi perempuan. Aspirasi ini dikemukakan pada muktamar ke-5, yang berlangsung bertepatan dengan muktamar NU di Surabaya pada 1954.

Dari hasil wawancara dengan Aisjah Dahlan dan Asmah Syahruni, Greg Fealy menjelaskan bahwa usulan kelompok muslimat tadi mendapatkan reaksi keras para Kiyai. Para Kiyai memprotes, perempuan tak mungkin bisa menjadi politisi yang efektif karena mereka akan menghadapi bahaya moral dan fisik serta mengabaikan ’tugas utama’ pada keluarganya. Setelah mengalami perdebatan sengit, PBNU akhirnya menyetujui adanya anggota perempuan dari NU serta menginstruksikan pada Lapunu (Lajnah Pemilihan Umum Nahdlatul Ulama) agar perempuan juga dimasukkan dalam daftar calon.

Akhirnya kelompok muslimat pun siap merespon setiap stigma miring yang dilekatkan perempuan. Memakai medium majalah Duta Masyarakat, Aisyah Dahlan memprotes pernyataan kaum laki-laki bahwa ’perempuan tidak tahu apa-apa’. Pernyatan yang cukup menyakitkan. Ia menegaskan bahwa banyak perempuan yang ingin melakukan aktivitas di luar rumah tapi terhalang tekanan suaminya. Tekanan mengurus anak dan rumah. Akhirnya semua aspirasi perempuan kandas, gara-gara minimnya akses yang dimiliki. Baca selebihnya »

Kehidupan yang Terpasung

Posted in Resensi on Mei 9, 2009 by nurrahman191085

Kehidupan yang Terpasung*

Oleh: Noor Rohman

Judul Buku: My Forbidden Face (Wajah Terlarang)

Penulis: Latifa

Penerjemah: Heri Bernung

Tebal Buku: vi-232 hlm.

Penerbit: Fresh Book, Jakarta.

Dalam kurun waktu dua tahun (1994-1996), Taliban yang dipimpin Mullah Muhammad Omar, berhasil meraih kemenangan militer menguasai sebagian besar wilayah Afganistan, termasuk kota Kabul. Pemerintahan Taliban mengakhiri era Mujahidin yang berlangsung selama empat tahun (1992-1996). Pemerintahan ini adalah “era keemasan” bagi terinjak-injaknya nilai kemanusiaan dan hak perempuan Afghanistan. Dengan dalih agama, Taliban menyemai benih-benih penindasan bagi rakyat Afghanistan. Realitas inilah yang hendak dikupas Latifa dalam memoarnya “My Forbidden Face”. Memoar ini hendak bercerita pada dunia bahwa diskriminasi dan penindasan terhadap perempuan harus dilawan.

Pada awalnya, Latifa adalah perempuan belia berumur enam belas tahun yang dihantui kekhawatiran akan penguasaan rezim Taliban atas kota Kabul. Ia begitu kasihan melihat ayahnya mencemaskan anak laki-lakinya (Daud dan Wahid) akan direnggut Taliban dan anak perempuannya (Chakila, Soraya dan Latifa) dipaksa menjalani kehidupan terpenjara tanpa harapan karir dan masa depan. Setiap penaklukan wilayah, pengumuman pertama yang diteriakkan Taliban adalah membatasi kegiatan perempuan dalam ruang publik. Mereka diharamkan bekerja di luar rumah dan sekolah-sekolah mereka pun ditutup. Perempuan dianggap sopan bila berada di lingkungan keluarganya (mahram).

Akhirnya, kekhawatiran Latifa menjadi kenyataan. Taliban berhasil menguasai kota Kabul.  Kaum perempuan yang selama empat dekade leluasa melakukan aktivitas sosialnya, tiba-tiba dilarang keluar rumah, kecuali memakai Burqah (pakaian yang menutupi muka dan seluruh badan) dan harus disertai oleh anggota keluarga pria. Pengemudi dilarang memberikan tumpangan pada perempuan yang berjalan sendirian. Perempuan dilarang bekerja dan menikmati manisnya madu pendidikan. Penyelenggaraan pendidikan formal bagi perempuan tanpa izin dikenai hukuman. Baca selebihnya »